Apa yang dimaksud dengan
filsafat seni? Saat kita mengerjakan sesuatu dengan serius, pada suatu saat
pasti akan terbentur dengan pertanyaan mendasar tentang pekerjaan yang kita
lakukan. Sebetulnya apa yang sedang kita kerjakan? Apa maknanya bagi kita? Apa artinya
pekerjaan kita bagi masyarakat? Apakah hal yang kita lakukan memberikan benefit pada
masyarakat?
Begitu juga dengan seorang seniman atau publik
seni, pada suatu titik dia akan bertanya apa yang dimaksud dengan seni itu.
Pada kondisi inilah biasanya insting berfilsafat akan tumbuh.
Bisa jadi pada satu titik seorang seniman akan
lumpuh dalam berkarya karena merasa pekerjaan yang dilakukannya tidak memiliki
arti lagi. Dengan mengetahui betul apa yang dia kerjakan ia akan lebih yakin
dengan pekerjaannya. Hasil kerjanya pun akan lebih maksimal dan menggambarkan
apa yang diyakininya sebagai seni itu.
Filsafat
Seni
Filsafat seni adalah kajian masalah umum dan
mendasar tentang pertanyaan: Apa itu seni? Dengan berfilsafat kita terus
mempertanyakan pengertian seni melalui metode-metode
ilmiahnya. Karena itu pemahan terhadap dasar-dasar filsafat juga sangat penting
agar dapat menyelami filsafat seni.
Filsafat adalah bidang ilmu yang harus
dibarengi dengan pemahaman penuh pada dasar-dasar logika dan rasio yang
digunakan untuk mempertanyakan dan mempersoalkan hakekat dasar dari suatu
bidang. Disini hanya akan dibahas berbagai pengetahuan umum dan mendasar
perihal filsafat seni, tidak akan ada pertanyaan kontroversial ataupun
pengolahan ide radikal.
Filsafat seperti pedang bermata dua, tanpa mengerti cara
menggunakannya kita dapat melukai jendela pemikiran kita sendiri, atau yang
lebih buruk: tidak akan mendapatkan apa-apa.
Manfaat
Filsafat Seni
Kebanyakan orang hanya terbawa oleh arus dan menerima pendapat
pengertian seni seperti yang telah mereka dengar dan alami sehari-hari. Cara
berpikir analog/mekanis seperti itu akan mengakibatkan karya seni menjadi
seragam dalam suatu zaman. Dengan demikian kita tidak akan mampu mengadakan
perkembangan terhadap dunia seni. Pertanyaan filosofis tentang seni akan
membuat kita menjadi kritis, sehingga mampu memberikan perubahan dan
perkembangan bagi budaya seni.
Maka dari itu, seorang seniman pada akhirnya harus memiliki
filsafat seninya sendiri dan mampu mengaplikasikan pada karyanya agar dapat
memberikan perkembangan bagi budaya seni. Karena itulah pemahaman pada filsafat
seni sangatlah penting.
Tanpa pemahaman yang baik pada filsafat seorang seniman hanya
mampu mengepul informasi dari berbagai teori filsafat lalu menjadikannya
sebagai sikap hidup berkeseniannya. Misalnya seorang seniman yang banyak
membaca berbagai literasi sosialis akan menggunakan prinsip-prinsip teori
tersebut terhadap karyanya dan memberikan pesan moral positif. Hal tersebut
memang tidak apa-apa, justru bagus, seniman tersebut memberikan kontribusi
nyata bagi budaya seni.
Sayangnya hal tersebut justru kurang bersimpangan dengan
filsafat. Seseorang yang mengepul informasi yang telah ada lalu mengaplikasikannya
adalah seorang teknokrat, bukan filsuf. Walaupun pengalaman dan dedikasi
seorang teknokrat sangat baik, tetapi ada kebutuhan yang belum dipenuhi untuk
perkembangan seni itu sendiri; pemikiran baru yang tumbuh dari filsuf seni.
Karenanya berfilsafat tetap dibutuhkan untuk menghadirkan pesona baru bagi
karya seni yang di garap.
Filsafat Seni dan Estetika
Awalnya hubungan filsafat dan seni selalu dikaitkan dengan
estetika. Hal itu terdengar sangat masuk akal bagi nalar kita, karena estetika
adalah filsafat yang mempertanyakan keindahan. Tetapi hari ini dunia seni telah
sadar bahwa seni tidak harus selalu indah. Terdapat banyak komponen lain dari
nilai/output yang
diberikan oleh karya seni selain kecantikannya. Maka dari itu diperlukan suatu
bidang khusus selain estetika untuk mempersoalkan hakekat seni; filsafat seni.
Estetika mempersoalkan hakekat keindahan alam dan karya seni,
sementara filsafat seni mempersoalkan hanya karya seni atau definisi seni itu
sendiri. Jadi, boleh dikatakan perbedaan yang paling signifikan dari estetika
dan filsafat seni adalah objek materialnya. Beberapa perbedaan lainnya dibahas
pada table dibawah ini
|
Pokok Bahasan |
Filsafat Seni |
Estetika |
|
Ekspresi |
Mengekspresikan gagasan dan
perasaan |
Tidak menggagaskan sesuatu |
|
Komunikasi / Pertanyaan |
Seni menimbulkan pertanyaan
maksud/tujuan dari seniman |
Keindahan alam tidak dibuat
oleh manusia |
|
Aktivitas |
Seni dapat meniru alam |
Alam tidak dapat meniru seni |
|
Kegunaan |
Dapat memiliki manfaat
praktis dan indah (perkakas: belati, gelas, dll) |
Tidak perlu manfaat praktis
untuk menjadi indah |
Pokok
Bahasan Filsafat Seni
Dalam studi filosofis, persoalan selalu muncul dari pertanyaan.
Pertanyaan filosofis dari dulu sampai sekarang masih tetap sama, yaitu
sesederhana “Apakah seni itu?” pertanyaan yang selalu sama dan sederhana itu
nyatanya memunculkan banyak pendapat yang berbeda-beda dan tidak pernah usai
dari masa ke masa.
Dalam pertanyaan filosofis kita tidak akan hanya mempertanyakan
dari satu sudut pandang/bagian. Seperti dalam dalam seni rupa kita tidak akan
hanya mempersoalkan karya seni atau produk seni itu sendiri, tetapi juga
aktivitasnya, keterlibatan pihak luar dalam proses hingga ke medan yang
dilaluinya. Menurut Jakob Sumardjo (2000, hlm.29) terdapat enam pembahasan
pokok dalam filsafat seni, yaitu:
1. Benda
seni
2. Pencipta
seni
3. Publik
seni
4. Konteks
seni
5. Nilai-nilai
seni
6. Pengalaman
seni
Benda Seni
Pokok persoalan seni tentunya diawali oleh wujud konkret yang
terindera dan teralami oleh manusia. Tanpa lahirnya benda seni tidak akan
muncul persoalan-persoalan seni diatas. Dalam pokok bahasan benda seni dibahas
material seni dan atau medium seni. Seni terwujud berdasarkan medium tertentu
baik indera pendengaran, pengelihatan, atau gabungan keduanya dan lain-lain.
Setiap medium memiliki ciri khasnya sendiri dengan kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Penggolongan tersebut akan melahirkan ilmu-ilmu seni khusus,
seperti ilmu sastra, ilmu seni tari, ilmu seni teater, dan lain-lain.
Dalam persoalan benda seni biasanya akan dipermasalahkan apakah
suatu karya seni merupakan peniruan kenyataan/alam (mimesis) atau seni
merupakan ekspresi jiwa manusia. Dalam rekaman sejarah, debat tentang pokok
persoalan tersebut telah dimulai sejak Plato dan Aristoteles dan tak pernah
usai hingga sekarang. Persoalan subjektivitas dalam seni (ekspresi) dan
objektivitas (mimesis) berlangsung di lingkungan penciptaan (seniman) dan
pengamatan (evaluasi kritikus). Benda seni juga mungkin akan mempermasalahkan
analisis bentuk da isi seni. Perdebatan yang terjadi dalam konteks ini juga
tidak kalah sengit.
Pencipta Seni
Persoalan seni dan seniman menyangkut masalah kreativitas dan
ekspresi. Apa itu kreativitas? Apa yang dimaksud ekspresi, dan apa bedanya
dengan representasi? Gender juga dapat menjadi pertanyaan, apakah seniman seni
berjenis kelamin wanita berbeda dengan seniman lelaki? Pribadi seniman juga
akan dipermasalahkan, karena biasanya akan menimbulkan gaya atau style yang
berbeda dari setiap individu.
Publik Seni
Seni adalah bentuk komunikasi antar pencipta dan apresiatornya.
Seni tidak dapat disebut seni tanpa pengakuan masyarakat seni dan atau dengan
masyarakat umumnya. Seniman disebut seniman oleh masyarakat karena status yang
diperjuangkannya. Seni itu publik, maka persoalan-persoalan komunikasi,
nilai-nilai masyarakat menjadi persoalan seni juga. Apresiasi, insitusi, jarak estetik, empati
tidak selalu mencakup seluruh masyarakat, terkadang mungkin ada beberapa pihak
yang tidak setuju untuk menerima produk seni. Maka dipersoalkan juga
karakteristik masyarakat melalui kajian sosiologi, psikologi dan antropologi
seni.
Nilai Seni
Benedetto Croce berpendapat bahwa karya seni atau benda seni
tidak pernah ada, sebab seni itu terdapat pada jiwa setiap penanggapnya. Disini
dibacarakan nilai-nilai seni yang diciptakan sendiri oleh penanggap seni terhadap
sesuatu yang diperlakukannya sebagai benda seni. Disitulah persoalan seni
paling rumit dibicarakan dalam pembicaraan mendasar tentangnya. Persoalan seni
sebetulnya adalah persoalan nilai-nilai tadi sehingga dalam bidang filsafat
kajian seni dikategorikan dalam kelompok kajian tentang nilai, sejajar dengan
etika dan logika.
Kesimpulan
Persoalan seni ternyata melibatkan berbagai pokok tinjauan,
satu sama lain berikatan. Masing-masing pokok seni dapat bersanding dengan baik
atau bertentangan. Persoalan benda seni akan melibatkan pembicaraan tentang
nilai-nilai dan pengalaman seni yang diperoleh, sedangkan persoalan nilai-nilai
akan berkaitan dengan public seni dan konteks sosial-budaya. Semuanya
memperlihatkan bahwa persoalan seni bukanlah persoalan yang mudah dijawab.
Dengan menggunakan pokok bahasan tersebut kita dapat mulai mempertanyakan
pertanyaan filosofis kita sendiri dengan cara yang lebih tertata dan
melanjutkan atau mendebat apa yang telah ditemukan pemikir seni sebelumnya

0 comments:
Post a Comment