Sunday, January 26, 2020
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Banyak yang kita ketahui bahwa filsafat itu adalah ilmu sesat!!tapi sebenarnya bukan itu, ketika kita bisa mempelajari hakikat dari filsafat maka kita akan menjadi orang yang mengerti tentang akan pngetahuan (saince) filsafat ada sebelum adanya since, dan keduanya bukan hanya mempertanyakan tentang ADA tapi seluruh substansi alamiya bisa dipecaahkan...FILSAFAT DAN BERFILSAFAT
Kemungkinan besar, Anda baru pertama kali belajar filsafat. Tetapi
dapat dipastikan bahwa Anda sudah pernah mendengar kata “fisafat,”
baik disebutkan orang lain di depan Anda, membacanya dalam buku,
atau barang kali Anda sendiri pernah mempergunakannya untuk memperkuat pernyataan Anda. Nama-nama filosof besar dan ucapan-ucapannya yang laksana ‘kata-kata mutiara’ tentu pernah Anda dengar, walaupun terkadang apa maksud ucapan mereka tersebut sulit dipastikan.
Anggapan umum pertama tentang filsafat adalah bahwa yang
dibahas sebagai hal yang tinggi, sulit, abstrak dan tidak terkait dengan
masalah kehidupan sehari-hari. Filosof sering digambarkan sebagai
seorang yang mempunyai IQ dan intuisi yang jauh melebihi tingkat
rata-rata manusia. Filosof juga dipandang sebagai seorang yang tidak
memperdulikan masalah sehari-hari, tetapi sibuk merenung dan memikirkan persoalan hakikat sesuatu yang sulit dicerna.
Sebenarnya, masalah-masalah pokok filsafat adalah persoalan yang
pernah dipikirkan setiap orang. Dalam hidup, tentu kita pernah mempertanyakan, memikirkan dan merenungkan kenapa ini harus begini, dan
tidak boleh begitu. Sedangkan itu harus begitu, tidak seharusnya begini.
Untuk apa saya kuliah? Kenapa kerabat kita yang baik meninggal? Kenapa
ada orang yang sampai hati berbuat seperti itu? Semua ini telah menjadi obyek pemikiran filosofisnya. Jadi, secara umum, kita sudah ‘berfilsafat,’
yaitu mengajukan pertanyaan filosofis, terlibat dalam perbincangan
filosofis, dan memegangi sudut pandang filsafat tertentu. Perbedaan
kita dengan para filosof yang akan kita pelajari dalam mata kuliah ini
barangkali lebih dalam kadar, intensitas dan sistematika filsafatnya.
Kini, Anda akan menghadapi masalah terpenting yaitu, Anda akan
2 FILSAFAT UMUM
mempelajari filsafat secara lebih sistematis. Anda akan berupaya
menguasai berbagai masalah filosofis, berkenalan dengan beberapa
filosof terkenal, dan terlibat dalam perbincangan filsafatnya. Berbagai
pertanyaan dan misteri selama ini akan segera terjawab. Lebih mungkin
lagi adalah apa yang selama ini Anda terima begitu saja sebagai sesuatu
yang sudah sewajarnya (taken for granted) dan tidak terlintas sebagai
problema kehidupan, ternyata kebenaran dan keabsahannya dipertanyakan
bahkan diragukan. Anda akan melihat kehidupan ini dengan sudut
pandang yang lain: lebih kritis, sistematis dan logis. Apakah ini berarti
bahwa kehidupan Anda akan lebih tenang? Apakah ini berarti bahwa
Anda akan menemukan jawaban dari setiap problema kehidupan? Kemungkinan besar tidak! Dalam berfilsafat, setiap jawaban atas pertanyaan
yang diajukan akan menimbulkan lebih banyak lagi pertanyaan. Kemungkinan lain adalah bahwa ada beragam jawaban yang ditawarkan
para filosof atas satu pertanyaan, sehingga bisa membingungkan. Namun
demikian, menganalisa berbagai jawaban ini merupakan bagian dari
berfilsafat itu sendiri.
Jadi, jika filsafat hanya membuat kita ‘bingung’ dan tidak mampu
menyodorkan ‘jawaban’ yang siap pakai, maka untuk apa kita susah
payah belajar filsafat, apalagi berfilsafat? Tentu saja, jawaban dari
pertanyaan ini adalah tergantung pada diri Anda. Jika Anda termasuk
orang yang menerima begitu saja perkataan orang lain dan tidak memperdulikan berbagai permasalahan yang Anda hadapi sendiri, serta tidak
ingin berpikir dengan sistematis, maka belajar filsafat menjadi tidak perlu.
Tetapi, sebagai manusia normal yang ingin tahu, maka rasa ingin tahu
akan terus menggelitik. Dengan mempelajari filsafat, jalan Anda untuk
memenuhi rasa keingintahuan tersebut akan lebih terarah dan lancar.
Bukan saja dalam menjawab pertanyaan, tetapi juga dalam mengajukan pertanyaan yang mana, dan dalam bentuk apa pertanyaan itu
seharusnya dirumuskan. Lebih lanjut, filsafat akan memandu Anda
untuk mengetahui tentang bagaimana dan dimana Anda bisa mendapatkan
jawabannya, paling tidak jawaban yang pernah dikemukakan para
filosof sebelumnya.
Karena langkah pertama studi ini adalah membina suatu konsepsi
dan persepsi yang jelas tentang apa sebenarnya filsafat itu, maka akan
didekati tugas ini dengan menghimpun dan menganalisa tentang pema- FILSAFAT UMUM 3 haman masyarakat awam ketika istilah filsafat digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Dari sini, kita akan beranjak untuk menilik beberapa definisi
yang disusun oleh para ahli.
A. Angapan Umum
Banyak orang memahami istilah ‘filsafat’ sebagai suatu teori umum
tentang sesuatu, khususnya tentang bagaimana mendekati suatu masalah
yang besar dan penting. Dalam media massa, contohnya, dinyatakan
bahwa kelompok ini liberal, sementara kelompok itu konservatif.
Keduanya mempunyai perbedaan pendapat tentang filsafat politik, dan
dinyatakan bahwa para pendiri negara kita telah sepakat tentang suatu
filsafat negara. Sistem pendidikan yang diterapkan di tanah air juga
didasarkan atas suatu filsafat.
Dalam semua kasus ini, kata ’filsafat’ barangkali dapat digantikan
dengan ‘teori’. Secara lebih umum lagi, dalam perkataan sehari-hari,
‘filsafat’ lebih banyak bermakna ‘pemikiran’ atau ‘pendapat’. Pernyataan
bahwa “ia berfilsafat begini,” maksudnya adalah “ia berpendapat seperti
itu.”
Istilah ‘filsafat’ juga menunjuk kepada arti pandangan hidup (view
of life) seseorang atau sekelompok orang, atau teori umum tentang bagaimana kita harus mengatur hidup dan kehidupan kita. Di sini kelihatan
bahwa bahwa filsafat dipahami sebagai sesuatu yang mempunyai orientasi
praktis. Bahwa ‘hidup untuk makan’ atau ‘makan untuk hidup’ dikatakan
suatu filsafat, karena secara praktis mempengaruhi orang yang meyakininya. Dalam konteks ini, ‘mumpungisme’ juga termasuk ‘filsafat, dan
sekarang banyak pengikutnya.
Di kalangan masyarakat, ‘filsafat’ kerap dikaitkan dengan keinginan
untuk memikirkan suatu permasalahan secara lebih jauh dan mendalam,
dan tidak terbatas pada tuntutan lahiriah. Siapa yang tidak sedih mengalami kegagalan setelah berupaya dan berkorban segala macam, tetapi
nasehat yang datang “cobalah lebih filosofis melihatnya. Pasti ada hikmah
yang tersembunyi di balik kegagalan ini!.” Atau juga, “berjuanglah dengan
memakai filsafat garam, dan jangan pergunakan filsafat gincu!”, demikian
nasehat para orang pintar.
Apakah maksud semua nasehat ini? Apa rupanya perbedaan antara
4 FILSAFAT UMUM
garam dengan gincu? Apa pula kaitannya dengan perjuangan? Maksudnya
adalah bahwa garam tidak terlihat jika dimasukkan ke air dan ke makanan
dan sebagainya, tetapi bisa merubah rasa dan citra benda yang dimasukinya.
Sedangkan gincu yang dipakai para wanita memang dibuat dengan
warna menantang, norak dan supaya menarik perhatian, tetapi hanya
lapisan tipis di atas bibir, tersintuh sedikit saja sudah terhapus dan ‘belepotan’.
Maksud, nasehat itu, oleh karenanya, kalau berjuang yang penting
bukan supaya terlihat orang lain dan digembar-gemborkan, tetapi hasil
dan dampaknya yang mendalam. Ungkapan ini juga bermakna bahwa
yang lebih berharga dan luhur adalah perjuangan tanpa pamrih, tanpa
upacara dan tanda jasa. Ini juga pemakaian kata filsafat di kalangan
masyarakat.
Gambaran lain yang muncul ketika kata ‘filsafat’ dipakai dalam
kehidupan sehari-hari bahwa ia menunjuk pada masalah-masalah yang
mendalam, dan biasanya abstrak. Karenanya, para filosof digambarkan
sebagai orang yang berilmu dan bijaksana (walau tidak jelas apa disiplin
keilmuannya dan dari mana ia memperoleh kebijaksanaannya); para
pemikir yang mengabaikan kenikmatan dunia dan masalah kehidupan.
Tidak heran, jika orang merasa ‘takut’ dan merasa bahwa belajar filsafat
adalah ‘berbahaya’.
Citra umum bahwa filsafat itu sulit dan rumit juga tergambar dari
komentar (biasanya dengan nada sinis) masyarakat, ketika mereka mengetahui bahwa Anda adalah orang yang ungkapannya sulit dipahami
atau pemikirannya payah ditelusuri, lalu masyarakat berkata “wah,
sudah berfilsafat pula dia sekarang!.” Akibatnya, beberapa pihak menyimpulkan bahwa ketika pemikiran filsafat atau buku filsafat (termasuk
dosen filsafat) sulit dipahami, berarti pemikiran dan buku filsafat itu
lebih baik dan lebih hebat. Padahal, semua ini tidak benar.
Paparan tentang anggapan umum tentang filsafat ini kita akhiri
dengan mendengar percakapan dua orang mahasiswa yang sedang
berbincang di bawah pohon rindang di tengah kampus. “Apa artinya
hidup ini?,” kata seorang yang baru saja kehabisan uang kiriman dari
kampung dan cekcok dengan pacarnya. “Jangan bersedih bung...!, kata
temannya. “Hidup ini ‘kan tidak lebih dari sandiwara.” “Hebat juga
filsafatmu itu! Tetapi sebenarnya apa maksudmu?” “Itulah dia, mana
pula bisa ku jelaskan sama kau...! Jawabnya mengelak. “Yang dapat
FILSAFAT UMUM 5
nilai ‘baik’ mata kuliah filsafat ‘kan ente!” Makanya kalau kuliah itu
jangan sering absen.”
B. Definisi
Sekarang, mari kita lanjutkan diskusi kita dengan menyimak berbagai definisi filsafat menurut para ahli. Tetapi, sebelumnya barangkali
kita telusuri dulu arti etimologinya. Filsafat (dalam bahasa Arab adalah
falsafah, dan dalam bahasa Inggris adalah philosophy) berasal dari bahasa
Yunani. Kata ini terdiri dari kata ‘philein’ yang berarti cinta (love) dan
‘sophia’ kebijaksanaan (wisdom). Secara etimologis, filsafat berarti berarti
cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam artinya sedalam-dalamnya.
Seorang filosof (philosopher) adalah pencinta, pendamba dan pencari
kebijaksanaan.
Menurut catatan sejarah, kata ini pertama kali digunakan oleh
Pythagoras, seorang filosof Yunani yang hidup pada 582-496 sebelum
Masehi. Cicero (106-43 SM), seorang penulis Romawi terkenal pada zamannya dan sebagian karyanya masih dibaca hingga saat ini, mencatat
bahwa kata ‘filsafat’ dipakai Pythagoras sebagi reaksi terhadap kaum
cendekiawan pada masanya yang menamakan dirinya ‘ahli pengetahuan’
Pythagoras menyatakan bahwa pengetahuan itu begitu luas dan terus
berkembang. Tiada seorangpun yang mungkin mencapai ujungnya.
Jadi, jangan sombong menjuluki diri kita ‘ahli’ dan ‘menguasai’ ilmu
pengetahuan, apalagi kebijaksanaan. Kata Pythagoras, kita ini lebih
cocok dikatakan sebagai pencari dan pencinta pengetahuan dan
kebijaksanaan, yakni filosof.
Pernyataan Pythagoras memang diabaikan dan diselewengkan
oleh banyak pihak terutama oleh kaum ‘sophist’. Mereka seakan menjadi orang yang paling tahu dan bijaksana. Mereka mempergunakan
kefasihan bahasa dan kelihaian bersilat lidah untuk meyakinkan masyarakat dan merebut pengaruh.
Kata ini kerap pula digunakan oleh Socrates (470-399 SM). Socrates
tidak saja terkenal karena pemikirannya yang brillian, tetapi juga karena
ia banyak mengajukan pertanyaan. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kepada siapa saja yang dijumpainya, dan pertanyaan tersebut membuat
sebagian orang menjadi lebih arif, lebih sadar diri, lebih pintar, tetapi
6 FILSAFAT UMUM
ada yang merasa disudutkan dan dicemoohkan. Oleh sebagian penguasa
dan tokoh masyarakat, pertanyaan-pertanyaan Socrates dianggap
berbahaya dan subversif. Pertanyaannya yang menyadarkan banyak
membuat generasi muda menjadi ragu terhadap status quo, murtad
dan memberontak. Kemudian, ia diadili dan dijatuhi hukuman mati,
bukan ditembak atau digantung, tetapi dengan minum racun. Ketika
tidak ada seorang pun tega menyodorkan piala berisi racun kepadanya,
maka ia rela menegaknya sendiri demi menunjukkan bahwa ia filosof
yang agung, seorang yang cinta kebijaksanaan dan benci kemunafikan
dan kejahilan (seharusnya kita bersyukur karena tidak harus berkorban
seperti Socrates untuk bisa cinta ilmu-kebijaksanaan dan benci
kemunafikan-kejahilan).
Kamus Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Poerwadarminta
merumuskan bahwa filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan
dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas hukum dan sebagainya daripada segala yang ada dalam alam semesta ataupun mengenai
kebenaran dan arti ‘adanya’ sesuatu.
Dalam Merriam Webster’s Collegiate Dictionary yang sering dirujuk
kalangan terdidik berbahasa Inggris menyebutkan bahwa philosophy
is all learning exclusive of technical precepts and practical arts; a discipline
comprising as its core logic, aesthetic, ethics, metaphysic and epistemology;
a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative
rather than observational means; an analysis of the ground of and concepts
expressing fundamental beliefs; a theory underlying or regarding a sphere
of activity of thought; the most general beliefs, concepts and attidutes of
an individual or group; calmess of temper and judgment.
Pernyataan tersebut sengaja tidak diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia, karena ingin menggalakkan Anda menerjemahkannya
sendiri. Kemampuan membaca bahasa asing (paling tidak Inggris) memang
mutlak diperlukan, jika Anda ingin memperluas wawasan, termasuk filsafat.
Jika Anda tertarik pada filsafat Islam, maka Anda harus menguasai bahasa.
Cukup banyak juga pengertian filsafat yang dihimpun oleh kamus
ini. pengertiannya mencakup yang sangat tehnis seperti suatu disiplin
keilmuan yang bahasan pokoknya meliputi logika, estetika, etika, metafisika
dan epistemologi. Sampai kepada arti yang sepele seperti sikap seseorang
yang ‘kalem’, meyakinkan dalam bertindak, menilai dan berpikir.
FILSAFAT UMUM 7
Jadi, apakah filsafat itu? Pertanyaan ini sama tuanya dengan filsafat
itu sendiri, masih tetap diajukan dan telah dijawab dengan cara yang
sangat beraneka ragam. Walaupun demikian, sekarang setidaknya Anda
sudah mulai memahaminya. Supaya lebih paham mari kita tanyakan
masalah ini kepada para filosof langsung. Asumsinya tentu para filosof
tentu lebih mengerti tentang apa filsafat (kalau tidak mana mungkin
ia mendapat gelar filosof).
Menurut Plato (427-347 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan
tentang hakekat. Bagi Aristoteles (384-322 SM), filsafat adalah ilmu
pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi logika, fisika, metafisika
dan pengetahuan praktis.
Menurut Bertrand Russel, filsafat adalah tidak lebih dari suatu
usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak secara
dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan dalam kehidupan
sehari-hari dan bahkan dalam ilmu pengetahuan. Akan tetapi, secara
kritis dalam arti kata: setelah segala sesuatunya diselidiki problemaproblema apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan
yang demikian itu, dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan
dan kebingungan, yang menjadi dasar bagi pengertian kita seharihari ….(problemen der Philosophic, 1967: 7).
Menurut R. Beerling, bahwa filsafat adalah pemikiran-pemikiran
yang bebas, diilhami oleh rasio, mengenai segala sesuatu yang timbul
dari pengalaman. (Er zijn eigenlijksheidvragen dalam Filosofic als sciencefiction, 1968: 44).
Karl Popper berkata “saya rasa kita semuanya mempunyai filsafat
dan bahwa kebanyakan dari filsafat kita itu tidak bernilai banyak. Saya
kira, bahwa tugas utama dari filsafat adalah untuk menyelidiki berbagai
filsafat itu secara kritis, filsafat mana dianut oleh berbagai orang secara
tidak kritis. (dikutip dari perdebatan televisi, 14 Nopember 1971).
Sementara itu, Immanuel Kant (1724-1804) merumuskan filsafat
sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok pangkal dan puncak
segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan yaitu:
Apa yang dapat kita ketahui? Metafisika;
Apa yang seharusnya dilakukan? Etika;
Sampai dimanakah harapan kita? Agama;
Apa hakikat manusia? Anthropologi.
8 FILSAFAT UMUM
Wah, kenapa definisi para filosof itu tentang filsafat begitu beragam,
dan malah kelihatan ada yang saling bertentangan? Jangan-jangan
apa yang diingatkan orang bahwa filsafat itu membingungkan ada
benarnya. Sekedar menambah ‘kebingungan’ Anda, jika daftar itu kita
tambah, maka keragaman akan terus bertambah. Tidak menambahnambah bahwa banyaknya jawaban tentang definisi filsafat adalah hampir
sama dengan banyaknya filosof.
Selain perbedaan, ada perbedaan dalam definisi-definisi di atas.
Jika ditilik lebih teliti, sebagian besar menunjuk pada adanya ciri-ciri
khas filsafat yang membedakannya dari yang lain. Barangkali cara
yang lebih mudah mengenal ‘filsafat’ adalah dengan mengenal ciriciri tersebut. Bandingkan jika sekiranya Anda mengenal ciri-ciri essensial
seseorang, meskipun pakaiannya berubah warna, rambutnya berganti
mode, sepatunya bertukar merek dan kacamatanya berganti bingkai,
di mana saja dan kapan saja Anda berbicara dia, besar kemungkinan
Anda masih menandainya. Anda tahu bahwa dia adalah dia, karena
ciri-ciri hakikinya, bukan karena pakaian, hiasan atau klaim-nya.
0 comments:
Post a Comment