AKTIFISINDO.BLOGSPOT.COM

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN, JANGAN LUPA KLIK IKLAN UNTUK BERDONASI KEPADA ADMIN TERIMAKASIH
Flow -  Progress

Banner 468 x 60px

 

Monday, October 19, 2020

MOLE LINTING CIGARET (By~Ary Mokoagow)

0 comments

Sebuah perasaan yang menumpuk di kalbu dengan rasa yang penuh kenikmatan sehingga bisa membawakan suasana yang begitu memanjakan dengan sekali tarikan, dengan warna hitam yang begitu gelap, lampiran cover yang bentuknya biasa biasa saja serta campuran campuran kata kata mutiara yang begitu menjanjikan seperti kata pepatah “cinta penuh dengan janji sehingga penikmatnya menjadi candu atasnya”  Kertas putih kosong sebagai wadah penampungnya yang mempererat hubungan antara penikmat, ditaburi setubur rempah rempah gila dan menjadi lilitan berupa pensil besarnya dan adapun yang berupah menjadi terompet bentuknya.

Komposisi komposisi ini yang begitu membuat para penikmat tergiur, bukan hanya aroma namun rasa yang begitu luar biasa, dunia terbentang hingga langit bergejolak takjub dengan suasana semesta ketika rasa yang dikeluarkan tak bisa menghianati perasaan, “tak seperti aku dan dia ketika membuat suatu kesepakatan yang pada ahirnya semesta menjadi saksi bisu perjalanan ini namun pada ahirnya langitpun menagis melihat semua itu”.

Senja yang datang begitu berarti walau tak begitu lama, menikmatimu dengan “Mole Linting Cigaret” inspirasi datang dari berbagai penjuru, wacana terbangun dengan spontan dan adapula rencana yang tak direncanakan ahirnya terpikirkan, sebuah kisah singkat ini menunjukan bahwa begitu nikmatnya semesta ini dengan pengguna sebaiknya, karena atas dasar apa yang kita lakukan pasti semua itu ada tujuannya, seperti kita merasakan nikmatnya “Mole Linting Cigaret”  tak begitu sempurna namun bisa membebaskan kita dari segala hal yang berkaitan dengan semesta.

Susunan komposisi diatas dapat di bilang juga sebuah pernyataan sikapku atasmu, kau yang membuatku candu dengan segala kelebihanmu, bukan karna cantikmu namun karena akhlak muliamu, sama seperti warna cover hitam gelap “Mole Linting Cigaret” yang begitu biasa saja namun banyak penikmatnya, namun semua yang tertutupi tak bisa terjawabkan atau memang tak bisa untuk di ungkapkan, seperti halnya cinta karena pada dasarnya para ahli dan ilmuanpun kesulitan dalam mendefinisikan cinta secara objektif namun aku bisa merasakan dengan penuh kenikmatan atas hadirnya engkau sebagai pendampingku disaat aku yang tengah sendiri melawan tragisnya dunia hingga semesta berbicara untuk diam diri dirumah saja lalu rasakan cintanya dengan segulung “Mole Linting Cigaret” sehingga mimpimu bisa membuat semuanya kaget, sperti pemikiranmu sediakala,

Hampiri senja dan ceritakan semuanya”

Read more...

Sunday, October 18, 2020

Filsafat Empirisme (By~Ary Mokoagow)

0 comments

 


A. PENGANTAR

Aliran empirisme dibangun pada abad ke-17 yang muncul setelah lahirnya aliran rasionalisme. Bahkan aliran empirisme bertolak belakang dengan aliran rasionalisme. Menurut paham empirisme bahwa pegetahuan bukan hanya didasarkan pada rasio belaka, di inggris. 

Konsep mengenai filsafat empirisme muncul pada abad modern yang lahir karena adanya upaya keluar dari kekangan pemikiran kaum agamawan di zaman skolastik. Descartes adalah salah seorang yang berjasa dalam membangun landasan pemikiran baru di dunia barat. Descartes menawarkan sebuah prosedur yang disebut keraguan metodis universal dimana keraguan ini bukan menunjuk kepada kebingungan yang berkepanjangan, tetapi akan berakhir ketika lahir kesadaran akan eksisitensi diri yang dia katakan dengan cogito ergo sum yang artinya saya berpikir, maka saya ada.(Ilyas Supeno, tt: 3).

Teori pengetahuan yang dikembangkan Descartes dikenal dengan rasionalisme karena alur pikir yang dikemukakan Rene Descartes bermuara kepada kekuatan rasio manusia. Sebagai reaksi dari pemikiran rasionalisme Descartes inilah muncul para filosof yang berkembang kemudian yang bertolak belakang dengan Descartes yang menganggap bahwa pengetahuan itu bersumber pada pengalaman atau empirisme. Mereka inilah yang disebut sebagai kaum empirisme, di antaranya yaitu John Locke, Thomas Hobbes, George Barkeley, dan David Hume. Dalam makalah ini tidak akan membahas semua tokoh empirisme, akan tetapi akan dibahas empirisme David Hume yang dianggap sebagai puncak empirisme yang paling radikal.



1. Konsep Empirisme

Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia dan mengecilkan peranan akal. Empirisme dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Paham empirisme ini mempunyai ciri-ciri pokok yaitu:

1. Teori tentang makna

Teori pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan yaitu asal usul ide atau konsep. Pada abad pertengahan, teori ini diringkaskan dalam rumus Nihil Est in Intellectu Quod Non Prius Feurit in Sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Pernyataan ini merupakan tesis Locke yang terdapat dalam bukunya “An Essay Concerning Human Understanding” yang dikeluarkan tatkala ia menentang ajaran ide bawaan (Innate Idea) kepada orang-orang rasional. Jiwa (Mind) itu tatkala dilahirkan keadaannya kosong laksana kertas putih yang belum ada tulisan di atasnya dan setiap ide yang diperolehnya mestinya datang melalui pengalaman, yang dimaksud di sini adalah pengalaman indrawi. Hume mempertegas teori ini dalam bab pembukaan bukunya “Treatise of Human Nature (1793)” dengan cara membedakan antara ide dan kesan. Semua ide yang kita miliki itu datang dengan kesan-kesan, dan kesan itu mencakup penginderaan, passion dan emosi.

2. Teori pengetahuan

Menurut rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tertentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika dan beberapa prinsip dasar etika dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran a priori yang diperoleh keluar intuisi rasional. Empirisme menolak hal demikian karena tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran kebenaran yang diperoleh lewat observasi, jadi ia kebenaran a posteriori.


Poedjawijatna (1997:105) menyatakan bahwa empirisme berguna dalam filsafat pada umumnya karena dengan empirisme ini filsafat memperhatikan lebih cermat lagi manusia sebagai keseluruhan. Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:

a. Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
b. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
c. Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
d. Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
e. Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
f. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Dari beberapa pandangan mengenai paham empirisme tersebut diatas, menurut penulis empirisme adalah yang suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan. Sehingga setiap orang yang menyatakan telah memiliki pengetahuan dia harus bisa membuktikan apa itu pengetahuan berdasarkan pengalaman yang dapat di ketahui oleh indra manusia.

2. David Hume

a. Riwayat Kehidupan David Hume (1711-1776)

Hume lahir di Edinburgh Skotlandia pada April 26, 1711 anak bungsu dalam keluarga yang baik tetapi tidak kaya. Ayahnya meninggal ketika Hume masih kecil, dan ia dibesarkan oleh ibunya di perkebunan keluarga Ninewells, dekat Berwick. Hume adalah seorang murid yang sukses, dan sebagai anak muda, ia memiliki perhatian yang tinggi terhadap sastran dan filsafat. Solomon (2002: 390) menyebut bahwa filsafat Hume adalah skeptisisme yang menyeluruh. Tahun 1723 ia masuk Universitas Edinburgh, studi pada hukum sesuai keinginan ibunya (Lavine, 1984: 137). Selama tiga tahun studi hukum dia membangun pandangan filsafatnya.
Pada musim gugur 1729 dia mengalami gangguan kejiwaan parah (Vapor) selama 5 tahun. Hal ini disebabkan karena dia mengalami perasaan puas pertama kali dia membantai raksasa segala ilmu pengetahuan, filsafat dan teologi padahal umurnya masih relatif muda. Karena kejadian ini dia memutuskan mundur dari dunia filsafat, akan tetapi kemudian justru dia mengambil keputusan untuk pergi ke Prancis Pada usia 23 tahun, ke La Fleche tempat perguruan Jesuit Descrates dulu untuk upaya penyembuhan dari penyakitnya. Disana dia menyelesaikan buku pertamanya yaang hampir selesai pada tahun 1737, Treatise of Human Nature, saat usianya masih 26 tahun (Robbert Cummins and David Owen, 1998: 325). Hume memiliki harapan yang tinggi pada karya ini, tetapi penerbitan karya ini tidak banyak mendapat perhatian.
Meskipun patah semangat, karena buruknya penerimaan terhadap Treatise, Hume terus menulis. Di tahun 1741-1742 saat di Skotlandia, ia menerbitkan Essays, Moral and Political. Karya ini mendapatkan kesuksesan, dan Hume bersemangat untuk merevisi Treatise. Akan tetapi, Hume tidak pernah bisa mendapatkan gelar profesor baik di Universitas Edinburgh dan Glasgow, karena skeptismenya dan dia ateis, mencemooh keyakinan beragama (Lavine, h. 139). Dia kembali ke Prancis 1763 sebagai sekretaris duta besar Inggris.
Pada tahun 1751, revisi terakhir bagian pertama dan ketiga karya Treatise diterbitkan masing-masing dengan judul An Enquiry Concerning Human Understanding dan An Enquiry Concerning The Principles of Morals. Kira-kira pada saat yang sama, Hume menulis karya yang berjudul Dialogue Concerning Natural Religion. Dialogue menjelaskan sikap Hume tentang eksistensi Tuhan dan sifat agama. Namun atas saran teman yang memiliki perhatian terhadap sifat pandangannya yang radikal, Hume tidak jadi menerbitkan Dialogue. Dengan ketetapan dari kehendak Hume, karya itu diterbitkan setelah Hume meninggal di tahun 1779 (Robbert Cummins and David Owen, 1998: 326).
Antara tahun 1752-1757, Hume mengabdi sebagai petugas perpustakaan di Faculty of Advocates di Edinburg (Joko Siswanto, 1998: 49). Setelah mendapatkan sumber-sumber dari perpustakaan ini, Hume menulis tentang sejarah Inggris. Karya ini tidak hanya panjang, tetapi juga kontroversial. Bagaimanapun, sebagai akibatnya, semua tulisan Hume menjadi lebih dikenal dan karya-karya itu mendapat pujian luas dari beberapa kalangan. Pujian tersebut terutama datang dari kalangan intelektual Perancis dan ketika Hume pergi ke sana pada tahun 1763 sebagai sekretaris Duta Besar Inggris, ia menerima sambutan hangat. Ia kembali ke London di tahun 1766 bersama Rousseau, meskipun hubungan antara keduanya segera menegang (Bertrand Russell, 1946). Setelah mengabdi selama tiga tahun di Undersecretary of State, Hume pensiun di Edinburg dan meninggal di sana tahun 1776
 
b. Pemikiran Hume
Skeptisme mendasar dalam pikiran Hume menentang terhadap tiga pemikiran sebelumnya. Hume melawan ajaran-ajaran rasionalitas tentang idea-idea bawaan. Selanjutnya menyerang pemikiran religius, entah dari katolik, Anglikan, maupun Penganut Deisme. Terakhir serangan pada empirisme sendiri yang masih percaya pada substansi (F. Budi Hardiman, 2004: 87).
Hume mengungkap karya-karya Francis Hutcheson, seorang filsuf moral dari Skotlandia di Universitas Glasgow, yang berpendapat bahwa prinsip moral tidak berdasarkan kitab injil, seperti dikatakan penganut kristiani, juga tidak berdasarkan akal pikiran, seperti pendapat Plato dan Socrates. Keyakinan Moral Menurut Hutcheson terdapat pada perasaan kita, sentimen setuju atau tidak setuju kita (Lavine, 1984: 137).
Kemudian dengan mengembangkan pandangan Hutcheson dan menggabungkan empirisme Locke dan Berkeley, Hume berpendapat bahwa pengetahuan didapat hanya dari persepsi panca indra (Lavine, 1984: 138). Hume memulai pemikiran kontroversialnya melalui penggabungan dua konsep tersebut, yaitu bahwa pengetahuan terbaik kita, hukum ilmiah, bukanlah apa-apa melainkan persepsi pengindraan yang meyakinkan perasaan kita. Karena itu meragukan sekali bahwa kita memiliki pengetahuan, kita hanya mempunyai persepsi panca indra dan perasaan. Dalam pemikiran Hume, ada skeptisme radikal, bentuk keraguan ekstrem atas kemungkinan bahwa kepastian dalam pengetahuan merupakan hal yang bisa dicapai. 
1) Tentang Teori Pengetahuan Hume
a) Landasan Segala Pengetahuan
T.Z. Lavine (1984: 140) mengungkapkan Hume dalam bukunya Treatise of Human Nature bagian pendahuluan, dia mengatakan bahwa tujuan penulisannya adalah untuk mempelajari ilmu pengetahuan mengenai manusia dan menjelaskan prinsip-prinsip sifat alamiah manusia. Menurutnya ilmu pengetahuan lainnya didasarkan pada ilmu pengetahuan mengenai manusia. Sehingga mempelajari ilmu tersebut, merupakapan proses mempelajari landasan segala pengetahian manusia. Untuk membuktikan ini Hume mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang merupakan pertanyaan para penganut empirisme sebagai berikut: Bagaimana Anda Tahu? Apa yang menjadi asal pengetahuan kita? Apa yang menjadi batasan pengetahuan manusia?
Dari pertanyaan tersebut dia mengetahui apa sebenarnya yang akan dia tunjukan: bahwa kita tidaklah memiliki pengetahuan, melainkan sekedar keyakinan bahwa yang kita rasakan itu benar. Karena menurutnya semua pengetahuan dimulai dari pengalaman indra sebagai dasar (Ahmad Tafsir, 2001: 181).
Steven M. Cahn ( 2009: 136) menyatakan bahwa menurut Hume sumber pengetahuan adalah pengamatan persepsi pengindraan bukan ide bawaan (ide innate). Hasil dari pengamatan tersebut adalah kesan-kesan (impression) dan pengertian-pengertian atau idea-idea (ideas) . Isi ide dan kesan adalah sama perbedaannya adalah cara timbul dalam kesadaran (Harun Hadi Wijaya, 2000: 53).
Kesan adalah sensasi, hasrat, dan emosi seketika, data dari perbuatan melihat, menyentuh, mendengar, keinginan, mencintai, membenci seketika. Gagasan adalah gambar salinan atau samar dari kesan. Perbedaan Kesan dan gagasan adalah kesan memiliki kekuatan dan kenampakan yang lebih besar. Gagasan hanyalah gambar dari kesan kita, yang terdapat di dalam pemikiran, penalaran, dan pengingatan. 
Semua pengalaman manusia menurut Hume termasuk golongan penghayatan atau golongan ide-ide (Brouwer, 1986: 62). Hume menguraikan dan menjelaskan hubungan antara kesan dan ide dengan menyatakan bahwa keduanya dipandang dari segi simplisitas atau kompleksitasnya, dapat dibagi menjadi dua kategori. Sebuah kesan yang kompleks tersusun atas kesan-kesan yang simpel. Selain itu, setiap ide yang simple berasal dari kesan tunggal yang berhubungan secara langsung. Di sisi lain, sebuah ide kompleks tidak perlu berasal dari sebuah kesan kompleks. Sebaliknya, ide-ide kompleks dapat dikembangkan dari variasi kesan simpel atau kompleks, atau ide-ide kompleks itu dapat disusun dari ide-ide simple.
b) Kritik Keras atas Doktrin Dua Jenis Pengetahuan
Alasan Hume mengawali buku Treatise-nya dengan landasan pengetahuan manusia adalah untuk menanyakan apa yang menjadi landasan pengetahuan. Maka untuk menunjukan bahwa hanya ada satu landasan pengetahuan, berisi satu pengetahuan saja, pengetahuan oleh persepsi panca indra. Dia ingin meruntuhkan dua jenis pengetahuan menurut filsafat lama yaitu: 1. Pengetahuan biasa tingkat bawah mengenai alam kasat mata, alam yang berubah-ubah menurut Plato disebut opini sejati dan Descrates menamakan ide pemikiran indra yang membingungkan. 2. Bagi Plato dan Descrates ada tingkatan tinggi pengetahuan dengan penalaran sebagai sumbernya dan menciptakan kepastian (T.Z. Lavine, 1984: 141). 
Hume membantah kedua jenis pengetahuan tersebut, pemikiran bahwa ada jenis pengetahuan tingkat atas yang bisa dicapai filsuf dengan akalnya, pengetahuan realitasnya, pengetahuan metafisika adalah keliru hanyalah ilusi. Kata Hume kita tidak akan pernah tahu alam realitas yang sebenarnya. Para filsuf yang mengatakan bahwa mereka mengetahui alam realitas yang sebenarnya adalah penjahat dan sangat bodoh, karena apa yang diketahui manusia terbatas pada persepsi panca indra. Pemikiran manusia itu terbatas, sesuatu yang dicari metafisika ini, tidak akan kita ketahui. Hume mengatakan bahwa doktrin dasar atas metafisika bahwa ada dua jenis pengetahuan, pengetahuan biasa dengan persepsi panca indra dan pengatahuan metafisika tingkat tinggi dengan pemikiran atau akal, adalah omong kosong.
Menurut Steven M. Cahn (2009: 137) bahwa Hume membagi pengetahuan menjadi dua. Pertama pengetahuan demostratif merupakan yang diperoleh melalui pemikiran tentang hubungan antara idea-idea. Kedua pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran tentang matter of fact yang disebut moral.
c) Prinsip–Prinsip Empirisme
Prinsip dasar yang telah ditetapkan Hume adalah “Segala gagasan sederhana kita awalnya dihasilkan dari kesan sederhana yang berkaitan dengan gagasan itu dan benar-benar mewakili keberadaannya” (Lavine, 1984: 145). Cara Hume mengungkapkan penjelasan tersebut dengan benar-benar mengkritik untuk menganalisis dan menjatuhkan berbagai gagasan. Hal ini juga disebut sebagai bola penghacurnya yang paling kuat. Hume mempertanyakan dari kesan apa gagasan ini muncul?
Hume kemudian melihat ide pemikiran mengenai zat yang dipakai Descrates, Hume bertanya dari kesan apa ide pemikiran itu muncul? Dengan pertanyaan ini maka akan didapati jawaban bahwa tidak mungkin dari kesan atas zat yang bersangkutan, namun hanyalah kesan ciri yang kita rasakan, seperti ukuran, bentuk dan warna. Jadi ide pemikiran zat ini merupakan cirri-ciri yang kita alami. Oleh karena itu kita tidak dapat mengatakan bahwa zat itu tidak ada. Kita bias tahu bahwa sesuatu itu ada apabila kita mempunyai kesan atas sesuatu tersebut. Jadi Hume telah menjatuhkan pertanyaan bahwa zat itu ada dengan menunjukan bahwa kita tidak memiliki kesan atas zat fisik.

Aturannya sederhana jika tidak ada kesan, maka tidak ada gagasan. Jika tidak ada kesan gagasan itu tanpa makna. Jadi aturan empirisme Hume tidak hanya uji kelayakan gagasan kita sebagai pengetahuan namun juga uji atas makna gagasan kita.

d) Penggabungan Gagasan
Keterkaitan kesatuan di antara gagasan-gagasan tersebut, ciri-ciri yang berkaitan, dimana satu gagasan memunculkn gagasan yang lainnya. Dengan demikian pasti ada prinsip universal dalam pemikiran kita, bukan sebagai kebutuhan, namun sebagai kekuatan untuk menggabungkan beberapa gagasan dengan cara tertentu. Hume menggambarkan kekuatan ini sebagai “kekuatan lembut, yang pasti bertahan”. Gabungan gagasan kita berdasar pada tiga ciri gagasan, yang cenderung membawa pikiran kita dai suatu gagasan ke gagasan yang lain, mengaitkan atau menggabungkan satu gagasan dengan gagasan yang lain. Lavine (1984: 146-147) mengatakan Hume membuat tiga ciri sebagi basis dari tiga hukum penggabungan gagasan.
Hukum pertama adalah gagasan tergabung atau terkait oleh kemiripan atar-gagasan. Hume memberi contoh “sebuah lukisan dengan mudah membawa pikiran kita ke obyek aslinya”. 
Hukum kedua adalah kedekatan satu gagasan dengan gagasan yang lainnya dalam hal ruang dan waktu. Pikiran kita cenderung menggabungkan satu gagasan dengan gagasan yang lain secara fisik atau jasmaniah tergabung. Hume mencotohkan “menyebutkan satu apartemen dalam sebuah gedung umunya akan membawa pikiran kita mengenai apartemen lainya. 
Hokum ketiga adalah sebab-akibat, pikiran kita tampaknya dipaksa untuk mengaitkan suatu sebab dengan akibat yang dibawanya. Bertrand (1946: 880) menyatakan skeptisme Hume semata didasarkan pada penolakannya atas prinsip induksi yang diterapkan pada hukum sebab akibat. Misalnya jika kita memikirkan luka, kita tidak jarang sekali bias mencegah diri kita memikirkan rasa sakit yang mengikutinya.

Hukum penggabungan gagasan merupakan bagian dari strategi bola penghancurnya dan menggunakan hukum penggabungan gagasan dengan sebab akibat untuk menjatuhkan pertanyaan bahwa kita bisa memiliki pengetahuan ilmiah sehingga sebab tertentu secara otomatis menghasilkan akibat tertentu.
 
Hume berkata bahwa gagasan atomis kita, yang berkaitan dengan kesan, terkait atau tergabung dengan menggunakan tiga hukum penggabungan, yang merupakan kekuatan yang lembut yang memaksa kita menggabungkan satu gagasan dengan gagasan lainnya. Tiga hukum ini berlaku pada segala pemikiran kita, juga termasuk pemikiran ilmiah kita. Ketiga hukum ini akan memberikan dorongan terkuat untuk mengaitkan satu ide dengan ide lainnya adalah sebab dan akibat (Lavine, 1984: 147). Selanjutnya Hume menyatakan bahwa segala sesuatu yang bias kita bahwa segala sesuatu yang bias kita katakana mengenai suatu obyek, mengenai masalah fakta, di luar mengenai kesan seketika kita atas apa yang kita lihat dan sentuh, haruslah didasarkan pada hubungan sebab akibat. Semua pemikiran kita mengenai persoalan fakta merupakan pemikiran kausal. Dan pemikiran kita yang penting mengenai persoalan fakta merupakan pemikiran ilmiah, dengan hukum alam kausalnya.
Ketiga hokum ini mencirikan semua kerja mental kita, termasuk penalaran kita, dan secara khusus hokum tersebut mengkarakteistikkan gagasan ilmiah kita. Diantarar ketiga hokum tersebut yang merupakan penghubung yang paling kuat diantara gagasan. 

c. Analisis terhadap Kausalitas (Sebab-Akibat)

Selanjutnya, Hume sangat tertarik pada relasi sebab dan akibat karena sejak lama dalam filsafat, diyakini adanya hubungan sebab akibat yang terjadi di alam ini ( Budiman, 2004: 89). Semua pertimbangan yang berkenaan dengan masalah fakta tampak didasarkan pada relasi sebab dan akibat. Dengan sarana relasi itu, kita dapat melampaui bukti dari memori dan indera kita. Hume menegaskan bahwa pendapat menegenai hubungan itu tidak benar dan didasrkan pada sebuah kebinggungan belaka. Segala peristiwa yang kita amati memiliki hubungan tetap satu sama lain, tapi hubungan tidak boleh disebut kausalitas.
Hume menjelaskan bahwa pendapat tentang sebab-akibat (kausalitas) itu merupakan suatu hubungan atar idea (relation of ideas). Ide kausalitas juga tidak dapat diperoleh melalui persepsi (A. Tafsir: 2001: 184). Hume menegaskan bahwa ketika kita berpikir tentang relasi sebab dan akibat antara dua hal atau lebih, maka biasanya kita memaksudkannya dengan arti bahwa yang satu, secara langsung atau tidak langsung bersebelahan dengan yang lain, dan bahwa yang satu, yang kita beri tanda sebagai sebab adalah dalam beberapa hal, secara temporer mendahului yang lain. Bagaimanapun, kondisi-kondisi ini tampak tidak mencukupi bagi munculnya sebuah relasi sebab dan akibat. Karena dapat dipahami bahwa X dapat bersebelahan dengan dan secara temporer sebelum Y tanpa menjadi sebab dari Y, maka diperlukan sesuatu yang lebih. Hume beranggapan bahwa kita menambahkan sebuah ide jika ada hubungan tetap antara X dan Y di dalam situasi di mana X dikatakan sebab dari Y. Tanpa tambahan ide bahwa setiap peristiwa atau hal pasti memiliki suatu sebab yang menghasilkannya secara pasti, maka pemahaman biasa tentang relasi sebab dan akibat tidak akan muncul. Dengan demikian, jika suatu gejala tertentu disusul oleh gejala lain, dengan sendirinya kita cenderung kepada pikiran bahwa gejala yang satu disebabkan oleh gejala yang sebelumnya. Misalnya batu yang disinari matahari selalu panas. Kita menyimpulkan batu menjadi panas karena disinari matahari. Tetapi kesimpulan ini tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberikan urutan gejala-gejala, tetapi tidak memperlihatkan urutan sebab-akibat (Harun Hadi Wijaya, 2000: 55).
Hume menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibanding kesimpulan logika atau kemestian sebab-akibat. Sebab akibat hanya hubungan yang saling berurutan saja dan secara konstan terjadi seperti, api membuat api mendidih. Padahal dalam api tidak dapat diamati adanya daya aktif yang mendidihkan air. Jadi daya aktif yang disebut hukum kausalitas itu bukanlah yang dapat diamati, bukan hal yang dapat dilihat dengan mata sebagai benda yang berada dalam air yang direbus. Dengan demikian kausalitas tidak bisa digunakan untuk menetapkan peristiwa yang akan datang berdasarkan peristiwa yang terdahulu.

Menurut Hume, pengalamanlah yang memberi informasi yang langsung dan pasti terhadap objek yang diamati sesuai waktu dan tempat. Roti yang telah saya makan, kata Hume, mengenyangkan saya, artinya bahwa tubuh dengan bahan ini dan pada waktu itu memiliki rahasia kekuatan untuk mengenyangkan. Namun, roti tersebut belum tentu bisa menjadi jaminan yang pasti pada waktu yang akan datang karena roti itu unsurnya telah berubah karena tercemar dan kena polusi dan situasipun tidak sama lagi dengan makan roti yang pertama. Jadi, pengalaman adalah sumber informasi bahwa roti itu mengenyangkan, untuk selanjutnya hanya kemungkinan belaka bukan kepastian (A. Tafsir, 2001: 185).
Hume membuang segala bentuk kausalitas dalam etikanya (Harun Hadi Wijaya, 2000: 56), Pernyataan Hume mengenai empirisme penggabungan dengan pandangan Hutcheson mengenai moralitas yang bersumber dari sentiment atau perasaan. Hal ini membaa Hume pada pemikiran kontroversialnya bahwa hukum ilmu pengetahuan kita hanya bersumber pada perasaan. Kemudian Hume mengemukakan gebrakannya ”Hukum ilmu pengetahuan didasarkan bukan pada apa-apa melainkan pada kesan indra yang dikaitkan dengan hukum psikologi penggabungan dan perasaan kekuatn yang digunakan. 
Hukum ilmiah tidak berarti apa-apa melainkan penggabungan psikologis berbagai gagasan. Sumbangan terbesa Hume dalam filsafat dan pengaruh terbesarnya adalah analisisnya mengenai hubungan sebab-akibat. Ini merupakan karya besarnya menghacurkan pemikiran – pemikiran lain. 
d. Filsafat Hume atas Agama
1. Kritik Keras Hume atas Bukti Rasional Mengenai Tuhan.

Hume menyangkal bukti klasik keberadaan Tuhan yang menggunakan akal penalaran. Hume mengkritik keras ketiga bukti keberadaan Tuhan Descartes, dua bukti pertama adalah bukti sebab-akibat, Descartes mendasarkan diri pada kejelasan dan kejernihan pemikiran bahwa sebab harus sama nyatanya dengan akibatnya. Bagi Descartes gagasan ini sangat jelas sehingga tidak ada pikiran rasional apa pun yang bisa meragukan, namun bagi Hume sangatlah tidak berarti karena kita tidak mempunyai kesan indra mengenai Tuhan sebagai suatu sebab, kita juga tidak mempunyai kesan apa pun mengenai benda yang berfikir sebagai akibat. 
Steven M. Cahn (2009: 272) menyatakan bahwa menurut Hume sepanjang sejarah tidak pernah ada beberapa orang yang menyaksikan adanya mukjizat mengenai adannya Tuhan. Semuanya adalah kebohongan, karena menurutnya timbulnya keyakinan bahwa Tuhan itu ada adalah karena manusia merasa takut dan gelisah kemudian mengada-adakan dan menyakininya.
Bukti ketiga Descartes atas keberadaan Tuhan pada Meditasinya yang kelima, menggunakan bukti ontologis yang dikemukakan oleh Saint Anselm di abad XI yang menngungkapkan ide bawaan mengenai Tuhan yang memiliki segala kesempurnaan, dan oleh itu memiliki kesempurnaan pada kewujudan-Nya. Hume meruntuhkan bukti ini dengan pertama mengingatkan atas filsuf empirisme seperti Locke tidak ada yang namanya ide bawaan, kita hanya memiliki gagasan yang muncul dari pengalaman kesan. Kemudian Hume menjawabnya dengan uji empirisme atas gagasan, jika tidak ada kesan dalam pengalaman, gagasan tidaklah bermakna, tidak berarti. “Gagasan kita tidak lebih dari pengalaman kita, kita tidak memiliki pengalaman akan ciri-ciri akhirat. Aku harus menyimpulkan silogismeku. Anda bias menarik kesimpulan sendiri.” pernyataan Hume. Maka bukti adanya Tuhan sebagaimana pendapat Descartes telah diruntuhkan.
Hume juga mengkritik ajaran tentang keabadian atau immortalitas, yang percaya akan adanya keabadian sehingga keabadian menjadi dasar sistem moral (Budiman, 2004: 91). Pendapat ini sepertinya karena Hume beranggapan bahwa manusia bi sa mewujudkan cita-citanya tentang hidup sosial tanpa menunggu akhirat.

2. Kritik Hume atas Deisme

Bukti mengenai Tuhan dengan menggunakan akal yang berlandaskan pada keteraturan, harmoni, dan keindahan yang ditemukan di seluruh alam ini, merupakan bukti keberadaan Tuhan yang paling diterima di abad pencerahan. Deisme merupakan keyakinan utama doktrin Kristen bahwa Tuhan itu ada sebagai satu-satunya sumber rancangan dan pengetahuan yang harmonis atas seluruh bagian alam semesta ini. Sebuah pandangan religious yang hanya berlandaskan akal pemikiran, menyangkal kenabian dan mukjizat, konsep Tuhan dibuat sejalan dengan akal pikiran dan ilmu pengetahuan.

Hume meruntuhan doktrin Deisme dengan menggunakan bentuk dialog Plato dalam Dialogues Concerning Natural religion. Suara Hume tertuang dalam Philo yang Skeptis yang mengungkapkan kesan dari indra kita adalah landasan untuk semua pengetahuan ilmiah kita, dan kesan ini tidak memberikan bukti bagi pernyataan bahwa semesta ini secara sempurna teratur dan harmonis, juga tidak menjamin bahwa keteraturan semacam ini akan berlanjut selamanya. 
Hume menambahkan pertanyaan apakah anda menemukan bukti bahwa dunia ini dirancang dngan baik oleh perancang yang baik dan penyayang? Lalu bagaimana menjelaskan kesedihan, rasa sakit, dan kejahatan dalam kehidupan manusia? Ini merupakan kritik paling keras terhadap agama Deisme di Masa Pencerahan.
 
3. Kritik atas keyakinan pada Mukjizat

Hume juga mengkritik adanya Mukjizat dalam esainya “Of Miracles” tahun 1748. Mukjizat menurut Hume merupakan pelanggaran hukum alam oleh pihak akhirat, zat supranatural. Mukjizat telah menentang pengalaman manusia, pengetahuan ilmiah, semua keteraturan dan konjugsi konstan kesan manusia. Tidak ada mukjizat yang bias menjadi landasan yang layak untuk agama karena sangat bertentangan dengan akal manusia. 
F. Budi Hardiman (2004: 92) menyatakan bahwa Hume melontarkan lima argumen yang untuk mengkritik mengenai mukjizat ini. Pertama Hume mengatakan sepanjang sejarah belum pernah ada mukjizat yang disaksikan secara kolektif oleh orang-orang cerdas. Kedua kecenderungan manusia mempercayai peristiwa luar biasa tapi tidak membuktikan kebenaran mukjizat. Ketiga kejadian mukjizat terjadi ketika manusia belum maju dalam ilmu pengetahuan. Keempat segala wahyu mempunyai klaimnya sendiri atas mukjizatnya masing-masing. Kelima semakin ilmiah penelitian historis, semakin ragulah si sejarawan terhadap peristiwa mukjizat.

Read more...

Filsafat Cinta (By~Ary Mokoagow)

0 comments

 


Setiap orang pasti pernah pacaran, setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap suami pasti pacaran dulu dengan calon istrinya. Setelah mantap, baru mereka menikah. Kalo tidak mantap, yah putus, dan cari pacar lagi. Saya juga yakin, anda pasti pernah pacaran sebelumnya. Ya kan?

Setiap orang juga tahu, bahwa komponen terpenting dari pacaran adalah cinta. Ya, cinta! Namun, banyak orang kesulitan, ketika diminta menjelaskan, apa itu cinta? Ratusan pemikir dan ilmuwan mencoba mendefinisikan arti kata itu. Namun, tak ada yang sungguh bisa menjelaskannya. Atau, jangan-jangan cinta itu hanya bisa dirasa, tapi tak bisa dijelaskan dengan kata-kata? Bagaimana menurut anda?

Yang saya tahu, cinta itu punya enam komponen. Anggaplah saya punya teori sendiri tentang cinta, semacam filsafat cinta. Enam komponen itu adalah hasrat, kehadiran, komitmen, akal budi, berkembang, dan paradoks. Bingung? Tenang.. saya akan jelaskan satu per satu.

Hasrat

Komponen pertama dari cinta, menurut saya, adalah hasrat. Hasrat adalah keinginan yang membakar hati, dan mendorong kita untuk bertindak. Hasrat adalah sumber dari dorongan hidup manusia, yang membuat kita bangun di pagi hari, dan mulai melakukan aktivitas. Pada saat ini, saya yakin, anda sedang berhasrat untuk membaca tulisan saya. Iya kan? Hayoo ngaku…

Sekitar 50 tahun yang lalu, Jacques Lacan, seorang pemikir asal Prancis, pernah menulis, bahwa manusia adalah mahluk yang berlubang. Hah, berlubang? Bukan berlubang secara fisik, tetapi ia memiliki lubang dalam jiwanya yang terus menuntut untuk diisi. Isinya bisa macam-macam, mulai diisi dengan barang-barang mewah, teman, keluarga, cinta, dan sebagainya. Apakah anda punya lubang semacam itu di hati anda?

Pada hemat saya, Lacan betul. Saya sendiri merasakannya. Bagi saya, lubang dalam jiwa itu adalah sumber dari segala hasrat manusia. Artinya, keinginan dan dorongan hidup manusia berakar pada upaya manusia untuk mengisi lubang yang ada di dalam jiwanya. Saya menyebutnya sebagai “rumah hasrat”. Menarik bukan?

Saya pernah jomblo (ga punya pacar) cukup lama. Rasanya hampa. Hati kosong. Malem Minggu sepi. Mau curhat (curahan hati), tapi ga ada yang bisa diajak curhat. Akhirnya, di dalam hati muncul keinginan (hasrat) untuk mencari pacar lagi. Mirip seperti lagunya ST12 yang sempat terkenal, “cari pacar lagi…”

Setelah bergaul dan membuka lingkungan pergaulan baru (anak gaul nih ceritanya), saya pun mendapatkan pacar baru. Hati senang. Namun, itu tak lama. Si lubang (rumah hasrat) dalam diri kembali berteriak-teriak. Saya ingin pacar saya seperti ini, seperti itu. Tidak cocok. Putus lagi. Hampa lagi. Sedih lagi… hiks…

Dugaan saya, anda pun pernah mengalami seperti itu. Ga pacaran kesepian, tapi pacaran justru pusing dan repot. Manusia memang tak pernah puas, karena ia punya lubang hasrat di dalam dirinya yang menuntut untuk terus diisi, tanpa pernah sungguh penuh terisi. Artinya, kita seumur hidup selalu dibayangi oleh kecemasan untuk memenuhi hasrat kita. Tul ga?

Kata ajaran Buddha, lubang ini bisa dilenyapkan, dan manusia lalu bisa sampai pada kedamaian sempurna. Ajarannya kelihatan baik. Namun, menurut saya, justru hasrat ini yang membuat kita ini manusia, yang membuat kita ini hidup. Kalau dihilangkan, lalu kita ini apa namanya? Tidak tahu. Yang pasti bukan manusia. Robot? Mayat hidup? Hiii… Tidak bermaksud menghina ya. Bagaimana pendapat teman-teman yang mendalami ajaran Buddha?

Oke.. oke.. kembali ke tema utama. Jadi pada hemat saya, salah satu komponen utama cinta adalah hasrat, dan hasrat itu sudah selalu ada dalam diri manusia, apapun agama, ras, ataupun etnisnya. Hasrat yang mendorong kita untuk mencintai, pacaran, menikah, punya anak, dan sebagainya. Hasrat yang mendorong kita untuk hidup. Tanpa hasrat, kita bagaikan mayat hidup berjalan. Udah ah.. jangan ngomong mayat-mayat lagi.. serem…

Kehadiran

Komponen kedua, menurut saya, adalah kehadiran. Cinta itu butuh kehadiran, baik kehadiran fisik, maupun kehadiran hati. Orang yang mencintai harus “hadir” dengan seluruh dirinya untuk yang dicintai, untuk menemani, membantu, dan berjalan bersama dengan orang yang dicintainya. Kalo tidak hadir, maka apa gunanya pacaran, apa gunanya mencintai? Itu sama saja dengan “tidak mencintai” atuh. Ya kan?

Makanya, saya selalu kagum dengan orang-orang yang bisa pacaran jarak jauh, apalagi suami istri yang berhubungan jarak jauh. Kehadiran fisik hanya mungkin pada saat-saat tertentu saja, seperti pada saat liburan atau cuti. Yang mengikat mereka adalah kehadiran hati. Artinya, tubuhku jauh, tapi hati dan pikiranku bersamamu. Romantis ya? Cihuy…

Saya sering melihat, ada orang pacaran, tapi yang satu sibuk main Blackberry, yang satu sibuk main notebook. Mereka tidak bicara. Mereka tidak saling menatap. Lah, apa gunanya ketemu? Mereka pacaran, tetapi mereka tidak hadir untuk satu sama lain. Apa itu namanya? Temannya juga bukan pasti. Apakah anda seperti itu juga?

Saya juga sering marah, kalau berjumpa dengan teman, tetapi ia sibuk main Blackberry. Fisiknya ada di depan saya, tetapi perhatiannya entah kemana. Saya merasa diabaikan, ga dianggap manusia, tetapi cuma dianggap benda saja. Siapa yang tidak marah, kalau diperlakukan seperti itu?

Melihat itu semua, saya janji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan memberikan perhatian penuh pada orang lain, jika mereka berbicara kepada saya. Saya tidak sibuk main BB, main notebook, atau main apapun. Saya akan mendengar, dan menanggapi, kalau diminta. Semoga janji saya ini juga bisa menginspirasikan anda untuk membuat janji yang sama kepada diri anda sendiri. Semoga….

Jadi intinya, orang pacaran itu harus punya cinta, dan cinta itu tandanya adalah kehadiran, baik kehadiran badan, hati, maupun pikiran. Tanpa kehadiran, pacaran itu cuma basa-basi, formalitas, atau sekedar menaikan status sosial. Kalau itu yang terjadi, semuanya jadi sia-sia. Kita jadi orang dangkal yang tak punya idealisme. Jangan jadi seperti itu ya… plis..

Komitmen

Komponen ketiga dari cinta, menurut saya, adalah komitmen. Komitmen adalah kesetiaan pada janji. Bukan hanya setia, tetapi janji itu dijalankan, ditepati, sampai sedetil-detilnya, dan jangan ditawar-tawar, kalau sudah disepakati. Ya ga?

Kok otoriter banget? Ga juga. Diskusi dan debat itu boleh dilakukan, sebelum janji dibuat. Tetapi ketika janji sudah disepakati, yah jangan ditawar lagi untuk membenarkan pelanggaran. Itu ndablek namanya. Hehehe…

Suatu saat, janji bisa berubah. Namun, sebelum janji berubah, harus ada pembicaraan dulu yang intensif, yang sering. Jangan tiba-tiba, salah satu pasangan ingin mengubah perjanjian, lalu semua berubah seenaknya. Yang penting, ketidaksepakatan itu dibicarakan. Bicara donk… jangan diam saja…

Saya sendiri juga bukan orang yang selalu tetap janji. Saya pernah melanggar janji. Tapi, saya sadar, dan kemudian berubah. Niat berubah pun belum tentu mengubah tindakan. Butuh waktu lama, sebelum niat sungguh menjadi kenyataan. Beberapa kali, saya dimarahi atau ditegur oleh pacar saya, karena tidak tepat janji. Maklum, namanya juga manusia. Yang penting kan ga diulangi lagi… hehehe..

Saya juga pernah punya pacar yang janjinya banyak, tetapi sering banget dilanggar. Akhirnya, kita berantem terus. Hubungan bukan lagi menjadi hiburan dan penguat, tetapi justru menjadi beban yang memberatkan. Susah kalo kita punya hubungan seperti ini. Bagaimana dengan kisah anda?

Pokoknya, cinta itu harus diikat dengan komitmen, baru sungguh menjadi cinta sejati yang menjadi penguat kehidupan, dan sumber kebahagiaan. Cinta tanpa komitmen itu seperti sambal tanpa cabe, artinya yah bukan sambal sama sekali. Ga ada gunanya. Masing-masing cuma menipu diri. Kita tidak hanya menipu orang lain, dengan mengaku mencintai dia, tetapi juga menipu diri sendiri. Kasiaaan banget….

Akal Budi

Cinta juga harus pake akal. Jangan mencintai secara gila-gilaan, sehingga ditipu pun tidak sadar. Orang yang mencintai juga harus tahu batas, kapan dia bisa memanjakan kekasihnya, memarahinya, atau meninggalkannya. Cinta tidak boleh buta. Duh.. hari gini, tetap saja masih ada orang yang mencintai secara buta, sehingga semuanya dikorbankan, termasuk uang, keluarga, dan sebagainya. Jangan jadi seperti itu ya…

Saya pernah punya teman perempuan. Ia amat mencintai suaminya. Apapun keinginan suaminya pasti dituruti. Gaya hidup mereka mewah, sementara pendapatan tak seberapa. Ketika situasi keuangan menurun, hubungan mereka krisis, dan pecah. Teman saya amat sedih dan patah hati. Ternyata, suaminya hanya mau dimanja, tetapi tidak mau hidup sulit bersamanya. Duh.. anda jangan sampai seperti itu ya…

Beberapa orang bilang, bahwa saya orang yang kejam. Di mata mereka, saya tuh pelit kalau pacaran. Kalau bikin perjanjian tuh tepat banget, sampe keliatan ga manusiawi. Pembelaan saya cuma satu, saya cuma ga mau memanjakan pasangan saya. Saya ingin mereka mandiri, dan tak tergantung secara emosional pada saya. Jahat ga sih begitu?

Saya juga dibilang sok-sok rasional. Itu sih tidak masalah, karena memang prinsip saya tetap sama, yakni pacaran dan cinta pun harus menggunakan akal. Jangan sampai kita diperas, karena cinta. Jangan sampai kita ditipu, karena cinta. Cinta tidak boleh membuat mata kita gelap dari kenyataan. Setuju ga? Hidup cinta.. hidup akal! Hush.. lebai..

Berkembang

Cinta sejati itu mengembangkan. Saya setuju dengan prinsip ini. Orang yang saling mencintai ingin pasangannya lebih baik, lebih pintar, lebih bijak. Hubungan mereka menjadi dasar untuk mengembangkan diri seutuhnya. Setuju?

Namun, ada kalanya upaya mengembangkan diri itu mengancam hubungan. Misalnya, istri dapat promosi di luar kota, dan harus meninggalkan keluarganya. Sementara, si suami merasa, bahwa urusan di rumah terlalu banyak untuk diurusnya sendiri, maka ia tidak setuju dengan rencana itu. Lalu bagaimana?

Saya rasa, tidak ada rumus universal untuk masalah itu. Yang perlu diperhatikan adalah prinsip berikut, semua keputusan yang dibuat harus didasarkan pada pembicaraan yang matang, egaliter, dan bebas dominasi antara semua pihak, yang nantinya terkena dampak dari keputusan itu. Proses ini menjamin, bahwa keputusan yang dibuat itu adil untuk semua pihak. Setujukah anda?

Berkembang juga harus tahu batas. Jangan sampai perkembangan diri justru malah menghancurkan hubungan. Percayalah, kesuksesan tidak ada artinya, kalau anda tidak punya orang yang bisa diajak untuk berbagi kesuksesan itu. Kebahagiaan itu bersifat sosial, dan tidak pernah bersifat semata individual. Orang yang paling berbahagia di dunia ini adalah orang yang paling banyak berbagi. Percaya tidak?

Saya punya seorang teman. Dia amat sabar, dan baik. Istrinya amat ambisius, dan sukses dalam karirnya. Pendapatan istrinya jauh lebih tinggi dari pada dia. Mereka hidup bahagia. Anaknya dua. Teman saya amat mendukung karir istrinya. Sementara, istrinya juga tahu batas, dan tak pernah mengorbankan keluarga. Saya tidak bilang, bahwa mereka keluarga sempurna. Namun, saya yakin, keluarga itu bisa menanggapi semua masalah kehidupan dengan baik, sebesar apapun masalah itu. Bagaimana pengalaman anda?

Paradoks

Esensi terdalam cinta, menurut saya, adalah paradoks. Paradoks itu artinya dua hal yang bertentangan, namun bisa menyatu, dan menciptakan sesuatu. Misalnya, anak itu sekaligus benci dan cinta pada ayahnya, atau orang itu sekaligus lembut dan keras pada saat bersamaan. Intinya, dua hal yang bertentangan justru bisa menyatu secara harmonis. Semoga anda tidak bingung ya..

Cinta pun juga paradoks. Di dalamnya, orang bisa merasakan benci dan sayang pada waktu yang sama. Cinta juga bisa bertahan, jika orang tidak terlalu mengikat pasangannya. Justru dengan melepas orang yang disayangi, maka cinta akan bertumbuh. Sebaliknya, dengan diikat, orang yang dicintai justru akan pergi. Apakah anda punya pengalaman seperti itu?

Kalau kata orang dulu, mencintai itu seperti menggengam pasir. Semakin kita kuat menggengam, semakin cinta itu jatuh. Sebaliknya, jika kita menggenggam dengan santai, maka pasir/cinta itu akan tetap di tangan kita. Jadi, cinta itu memang mirip pasir. Pasir adalah bahan dasar bangunan material, sementara cinta adalah bahan dasar bangunan spiritual. Romantis ya?

Di dalam cinta, semakin kita memberi, semakin kita akan mendapatkan. Semakin banyak kita berkorban, semakin kita akan memiliki banyak. Semakin kita mencintai, semakin kita akan dicintai. Namun, seperti prinsip di atas, prinsip akal budi tetap harus dipakai. Yang pantas-pantas saja dilakukan sebagai manusialah. Kalau kata anak remaja jaman sekarang, jangan lebay ya….

Saya punya pengalaman sewaktu masih kuliah dulu. Ketika pacaran, saya hitung-hitungan dengan pacar saya. Bukan hanya uang, tetapi waktu dan tenaga. Saya malas pergi keluar rumah. Saya malas mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Bahkan, saya malas pergi ke kondangan. Siapa yang mau punya pacar seperti itu?

Alasan saya waktu itu hanya satu, yakni hemat, termasuk hemat uang, hemat tenaga, hemat bensin, dan sebagainya. Namun, proses pacaran kami jadi penuh tekanan. Pacaran jadi tidak enjoy, dan hanya menjadi beban. Semuanya dihitung, dan akhirnya saya pusing sendiri. Di akhir-akhir hubungan, saya mulai berubah mulai mengikuti keinginan pacar saya, walaupun itu melelahkan, dan buang-buang uang. Mukjizat terjadi? Hehehe..

Ternyata, hasilnya tidak jelek. Saya lebih enjoy, dapat banyak pengalaman dan pengetahuan baru, serta kenal dengan orang-orang baru. Wawasan saya diperluas. Bahkan, pacar saya bersedia patungan beli bensin, dan traktir makan. Sayangnya, hubungan kami tidak bertahan. Kami putus, karena alasan lain. Yang pasti bukan karena saya pelit… heheheh…

Kembali ke tema, intinya, pacaran itu harus punya cinta. Dan, cinta itu harus dihidupi dengan enam komponen, yakni komponen hasrat (1), kehadiran (2), kemampuan memberi ruang untuk berkembang (3), komitmen (4), harus pakai akal budi (5), dan dijalankan dengan penuh kesadaran akan paradoks hidup (6). Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, kita pacaran! Yuk, belajar mencintai

Read more...

Saturday, October 17, 2020

Sang Demonstran dan Politikus Berkartu Mahasiswa. (by.~Ary Mokoagow)

0 comments

 

Soe Hok Gie mengkritik segelintir pimpinan mahasiswa yang lantang bersuara melengserkan Orde Lama, namun tunduk di kursi empuk Orde Baru.







SEBAGAI pejabat presiden, Soeharto berkepentingan membersihkan parlemen dari unsur Orde Lama. Sang Jenderal menginginkan lembaga perwakilan rakyat direstrukturisasi dan mengisinya dengan wajah baru. Manuver ini semata untuk tujuan politik: menarik dukungan yang efektif dari dewan legislatif atas setiap kebijakan rezim Soeharto. Tak hanya orang partai dan tentara, beberapa mahasiswa ikut dilibatkan. Mereka yang “terjaring” adalah aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) yang berperan menjatuhkan kekuasaan Presiden Sukarno lewat serangkaian aksi demonstrasi.

“Ujian pertama dari KAMI datang pada saat penawaran menjadi anggota DPR-GR. Golongan moral forces menolaknya, karena melihat racun berbungkus madu diatas kursi empuk DPR-GR. Sebaliknya golongan politisi setuju karena suara mereka diperlukan untuk voting anti Soekarno (yang makin lemah) dan menyusun UU Pemilihan Umum,” tulis Soe Hok Gie dalam artikel “Menyambut Dua Tahun KAMI: Moga-Moga KAMI Tidak Mendjadi Neo PPMI”, Kompas, 26 Oktober 1967.

Pada Januari 1967, sebanyak tiga belas mahasiswa ditunjuk menjadi perwakilan mahasiswa di DPR-GR. Semuanya berasal dari KAMI Pusat (Jakarta). Mereka yang disebut Gie sebagai golongan politik antara lain: Slamet Sukirnanto, T. Zulfadli, Fahmi Idris, Mar’ie Muhammad, Firdaus Wadjdi, Soegeng Sarjadi, Cosmas Batubara, Liem Bian Khoen, Djoni Simanjuntak, David Napitupulu, Zamroni, Yozar Anwar, dan Salam Sumangat. “Agar partai-partai Orla (Orde Lama, red.) tak mendominasi di sana,” kata seorang Ketua Presidium KAMI kepada Gie ketika ditanya soal kesediaannya menjadi anggota DPR-GR.

Sinis bercampur sedih mengisi benak Gie tatkala memandang laku para rekannya yang menurutnya sudah mulai silau dengan kekuasaan. Dalam artikel yang sama, Gie menyebut sebagian besar aktivis-aktivis KAMI adalah tokoh-tokoh yang hidup dengan menunggangi status kemahasiswaannya. Umurnya rata-rata mendekati 30 tahun dan telah berkali-kali tak naik kelas karena jarang kuliah. Mereka bukan lagi mahasiwa yang berpolitik, tetapi politikus yang punya kartu mahasiswa.

“Akhirnya Soekarno jatuh tetapi mahasiswa yang di DPR-GR juga jatuh martabatnya di mata mahasiswa biasa,” tulis Gie.

Mendandani Bopeng Mahasiswa

Begitu para aktivis kampus ini duduk di kursi anggota dewan, perpecahan mulai meletup. Pasalnya, mereka yang telah ditunjuk dalam parlemen bersekutu dengan partai politik. Mereka tak lagi berbicara atas nama mahasiswa, melainkan sebagai wakil golongan Islam, Katolik, dan sebagainya. Perselisihan pun mencuat ditingkat akar rumput, yaitu diantara sesama anggota KAMI. Sebagai organisasi mahasiswa yang menanungi berbagai golongan, KAMI tak lagi satu suara untuk kepentingan bersama.

“Dari sini kelihatan bahwa tokoh-tokoh KAMI mulai kembali ke induknya,” ujar Gie. Gie secara radikal menentang mantan rekannya sesama aktivis mahasiswa yang memilih terjun berpolitik praktis. Mengapa?

Dalam disertasinya di Australian National University, John Maxwell menjelaskan gagasan Gie bahwa mahasiswa seharusnya hanya muncul sebagai aktor politik manakala krisis sedang mencapai puncaknya. Ketika krisis sudah berlalu, mereka seharusnya kembali ke kampus. Gie membayangkan semangat aktivisme yang wajar: mulai soal olahraga sampai soal kebebasan mimbar kampus. Namun, yang terjadi kemudian justru sebaliknya.

“Segera terlihat bahwa aktivis-aktivis terkemuka KAMI tidak tertarik untuk atau cakap menangani masalah sehari-hari yang paling signifikan bagi mahasiswa biasa, seperti kualitas pendidikan yang mereka dapatkan, kondisi sumber daya universitas, misalnya perpustakaan dan laboratorium, dan penyediaan fasilitas olahraga yang lebih baik,” tulis Maxwell dalam Soe Hok-Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Prediksi Gie tentang “racun bercampur madu” yang menjerat di kursi di dewan legislatif terbukti. Kelakuan minus para aktivis mahasiswa-cum-anggota parlemen yang lupa diri ini terendus ke muka publik. Mulai dari wara-wiri keluar negeri dalam rangka “misi pencarian fakta” tanpa hasil, ketidakterbukaan soal gaji mahasiswa sebagai anggota DPR-GR, hingga berlomba-lomba kredit mobil mewah. Puncaknya ketika para anggota laskar menggemboskan mobil ban tokoh-tokoh mahasiswa di markas Laskar Arief Rachman Hakim. Mereka merasa tertipu melihat kemewahan para pemimpinnya.

Maxwell mencatat beberapa pemimpin KAMI, yang ditunjuk untuk duduk di dewan legislatif ternyata terlibat dalam manipulasi penyediaan kendaraan bermotor untuk para anggota parlemen. Mereka mendapatkan jatah mobil Holden Spesial dengan pengaturan biaya khusus sehingga harga mobil-mobil ini bisa jauh di bawah harga pasar yang berlaku. Skandal ini ramai mengisi bagian muka berita media-media di Jakarta saat itu. Reaksi keras dan kritik juga berdatangan dari mahasiswa-mahasiswa lain, terutama dari Bandung

Gie tak ketinggalan. Dalam artikelnya “Menaklukkan Gunung Slamet” termuat di Kompas, 14 September 1967, Gie menyebut sebagian dari pemimpin-pemimpin KAMI adalah maling. “Mereka korupsi, mereka berebut kursi, ribut-ribut pesan mobil dan tukang kecap pula.”

Tak cukup sampai di situ. Menyaksikan perangai cacat mantan kawan seperjuangannya, Gie tergerak memberikan apresiasi. Bersama beberapa rekannya, dia mencetuskan rencana untuk mengirimkan hadiah “Lebaran-Natal” kepada wakil-wakil mahasiswa di parlemen. Sebuah paket diantar pada 12 Desember 1969. Isinya antara lain: pemulas bibir, bedak pupur, cermin, jarum, dan benang. Sepucuk surat dan kumpulan tanda tangan mengiringi.

Sebagaimana termuat dalam harian Nusantara, 15 Desember 1969, demikian pesan dalam paket tersebut.

Bersama surat ini kami kirimkan kepada anda hadiah kecil kosemetik dan sebuah cermin kecil sehingga anda, saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan-rekan sejawat anda di DPR-GR.

Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi anda –tidurlah nyeyak!



Read more...
 
Calon Aktivis © 2020